“Aku Ingin Bercinta Kapan Saja” (English: I Want to Make Love Anytime) is the lead single from Shouda Chisato’s upcoming EP on INDO18. The track blends contemporary J‑Pop melodic sensibilities with a distinctly Indonesian lyrical approach, delivering a breezy, summer‑ready anthem that explores the universal yearning for intimacy and emotional connection, irrespective of time or circumstance.
The title ALDN‑331 follows INDO18’s “ALDN” series—an in‑house coding system that designates “Asian‑Lyrical‑Dance‑New” releases, with “331” indicating its place in the 2026 spring batch.
Shouda Chisato has built a reputation for playing the "sizzling" mature woman with intensity. In ALDN-331, she isn't just a passive participant; she is the engine of the plot. “ Aku Ingin Bercinta Kapan Saja ” (English:
| Target Audience | Rationale | |-----------------|-----------| | Indonesian pop fans (15‑30 yr) | Lyrical content directly addresses everyday experiences; bright, dance‑able production aligns with current streaming trends. | | J‑Pop & K‑Pop crossover listeners | Production credits (Ryo Sato) and Shouda’s vocal timbre attract fans of Japanese pop aesthetics. | | Streaming playlists | Ideal for “Summer Hits,” “Feel‑Good Pop,” and “Asian Indie Pop” editorial placements on Spotify, Apple Music, Joox, and Deezer. | | Club & remix market | The track’s clean 112 BPM groove and isolated stems (available on request) invite EDM, future‑bass, and tropical‑house remixes. |
Malam berikutnya, Raka mengundang Shouda ke studio musiknya. Di antara tuts piano, speaker, dan lampu sorot merah, mereka berbicara tentang apa yang membuat seseorang “ingin bercinta kapan saja.” Shouda Chisato has built a reputation for playing
“Bagiku,” kata Raka, “cinta itu bukan sekadar perasaan; ia adalah energi yang mengalir, menuntun setiap gerakan tubuh.”
Shouda menatapnya, mata berkilau. “Aku selalu menulis tentang kebebasan. Tapi… aku belum pernah menulisnya dari sudut pandang orang yang hidup di antara melodi dan ritme.” Malam berikutnya, Raka mengundang Shouda ke studio musiknya
Raka menepuk punggung kursi. “Mungkin kita bisa menulis bersama. Aku akan memberi musik, kau menulis kata‑kata. Kita buat sebuah cerita yang menari.”
Mereka mulai menuliskan skenario: dua insan yang saling menemukan, yang tak takut mengungkapkan keinginan mereka, yang mencampur irama hati dengan getaran tubuh. Setiap bab menjadi perpaduan antara deskripsi sensual dan irama melodi yang menegangkan.