Kami mewawancarai beberapa warganet yang pernah menggunakan frasa ini. Nama disamarkan.
Sarah (24), Jakarta
“Aku tulis itu setelah Alfi—nama samaran mantan situationshipku—menikah. Aku beli satu tangkai mawar putih, kasih tulisan ‘Bunga terakhir buat Alfi. Selamat menjadi suami orang.’ Lalu aku foto dan unggah di close friend. Anehnya, setelah itu aku benar-benar enakan. Kayak ada yang lepas.”
Rangga (30), Surabaya
“Alfi untukku adalah almarhum ibuku. Aku tak sempat memberi bunga saat pemakaman karena pandemi. Maka dua tahun kemudian, aku beli buket untuk diletakkan di kursi favoritnya. Di kartu: ‘Bunga terakhir buat Alfi, Ibu. Maaf terlambat pamit.’”
Dewi (19), pelajar
“Aku tidak punya Alfi. Tapi aku ikut tren ini dengan menulis ‘Bunga terakhir buat Alfi yang bernama rasa takutku sendiri.’ Aku beli bunga dari kertas origami. Itu sangat aneh, tapi membantu.”
Jangan curhat panjang. Cukup satu kalimat. Contoh:
Dalam sastra dan kehidupan, bunga selalu menjadi simbol yang ambigu: ia mekar dengan janji keindahan, namun diam-diam menghitung detik menuju kebusukan. Bunga Terakhir buat Alfi bukan sekadar judul—ia adalah pernyataan final, sebuah titik koma dalam percakapan yang tak lagi berbalas.