Skip to content

Charlie And The - Chocolate Factory Dubbing Indonesia

Abstract This paper examines the Indonesian dubbed version of Roald Dahl’s Charlie and the Chocolate Factory (2005), directed by Tim Burton. By analyzing the translation strategies employed—specifically localization, transposition, and modulation—the study explores how linguistic humor, character idiolects, and cultural references are adapted for an Indonesian audience. The analysis reveals that while the plot remains intact, significant shifts in tone and register occur, particularly in the dialogue of Willy Wonka, to suit Indonesian linguistic norms regarding politeness and hierarchy.


Dalam versi asli, Oompa Loompa menyanyikan lagu-lagu satir dengan rima rumit dalam bahasa Inggris. Tim penerjemah berhasil mengubahnya menjadi pantun dan sajak yang tidak kalah lucu. Contohnya:

Apa yang membuat Charlie and the Chocolate Factory dubbing Indonesia begitu istimewa? Bukan hanya soal mengganti bahasa, tetapi memberikan "rasa" baru yang terasa akrab di telinga orang Indonesia.

In 2023, Warner Bros. released Wonka (the prequel with Timothée Chalamet). While the film was successful, Indonesian fans immediately asked: "Where is the Indonesian dub?". Theatrically, Wonka had Indonesian subtitles only, breaking the tradition. charlie and the chocolate factory dubbing indonesia

This has sparked a petition among local film enthusiasts to have Warner Bros. India (which manages Southeast Asia dubbing) produce a high-quality Indonesian dub for the classic 2005 film and release it on streaming.

Millennials argue that their future children will never know the joy of hearing Willy Wonka scream "JANGAN! Jangan sentuh kerajaan sungai cokelat itu!" (DON'T! Don't touch that chocolate river kingdom!).

Poin paling menarik dari dubbing film musikal adalah bagaimana lagu-lagu diperlakukan. Dalam versi asli, para Oompa Loompa menyanyikan lagu-lagu kritis terhadap perilaku anak-anak nakal. Abstract This paper examines the Indonesian dubbed version

Dalam versi dubbing Indonesia yang tayang di televisi, biasanya produser acara memiliki dua pilihan:

This is the tragic part for fans. The specific TV dub from 2005 is considered Lost Media by many Indonesian collectors. Here is the current status:

Translating Roald Dahl’s dark humor into Indonesian is no easy feat. The dubbing team faced three major challenges: Dalam versi asli, Oompa Loompa menyanyikan lagu-lagu satir

Sebelum era streaming seperti sekarang, kita semua "ditakdirkan" menonton versi dubbing Indonesia karena itulah satu-satunya cara film Hollywood bisa dinikmati di RCTI, SCTV, atau Indosiar.

Ada rasa nostalgia tersendiri saat mengingat momen ini:

Versi dubbing ini juga menjadi pintu gerbang bagi anak-anak Indonesia yang belum fasih bahasa Inggris untuk menikmati karya sastra Roald Dahl. Tanpa sadar, melalui sulih suara inilah pesan moral film tersebut tersampaikan: bahwa kejujuran dan rendah hati (seperti yang dimiliki Charlie) jauh lebih berharga dari pada keserakahan.