Mereka memutuskan untuk pergi ke kafe 24‑jam terdekat. Di sana, suasana tenang, lampu temaram, dan musik jazz menjadi latar. Selama 30 menit, mereka berbicara bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan tentang impian pribadi, hobi, serta kekecewaan yang tak terungkap di ruang kantor.
“Aku selalu merasa terjebak antara menjadi ibu, istri, dan profesional. Kadang aku ingin melarikan diri sejenak, hanya untuk menjadi diriku sendiri.” – ujar Rina.
Andi menanggapi dengan empati, memberi sudut pandang yang berbeda: “Kita tidak harus menanggung semua beban sendirian. Kadang, menemukan seseorang yang mengerti saja sudah cukup.”
In the traditional Javanese household, Saturday was for family time. Today, Saturday has become the "grey area" of the workweek. It’s not quite a strict weekday, but it’s not a full holiday either.
For the wife working in a high-pressure corporate environment, Saturday Lembur (overtime) is the perfect alibi. Why?
Seiring berjalannya waktu, Rina dan Andi mulai menghabiskan malam-malam Sabtu bersama: menonton film indie di bioskop kecil, mencoba makanan street‑food, atau sekadar ngobrol di taman kota. Pada satu titik, mereka menyadari bahwa ikatan emosional mereka sudah melampaui sekadar teman kerja.