Despite its virtues, the tradition of ngapel is increasingly clashing with modern lifestyles, creating distinct social issues.
Untuk menjawab isu sosial "ngapel yang bikin risih keluarga", muncul adaptasi baru: "Ngapel Terjadwal" dan "Ngapel Keroyokan."
Budaya "ngapel dirumah" juga memunculkan isu ketimpangan sosial. Remaja dari keluarga menengah ke bawah cenderung memilih ngapel karena tidak punya uang untuk nongkrong di kafe. Sebaliknya, mereka yang "tidak pernah ngapel dirumah" sering dianggap gaya hidupnya hedon atau "jaksel banget". Ini menciptakan standar ganda yang merugikan: Ada pressure untuk menunjukkan bahwa kamu bisa mengajak pasangan keluar, namun sekaligus pressure untuk "sowan" ke rumah sebagai bentuk keseriusan.