Masyarakat Indonesia masih memiliki stereotip bahwa "wanita berhijab" harus kalem, tidak menonjolkan diri, dan berjalan dengan sangat hati-hati di ruang publik. Ketika seorang hijabers menunjukkan bahasa tubuh percaya diri (bahkan sedikit playful) persis seperti model internasional, itu menciptakan cognitive dissonance. Sebagian mengagumi, sebagian justru merasa "terganggu".
In a world where fashion and religion intersect in myriad ways, the sight of a woman wearing a hijab is a common one. However, when such an individual becomes the center of a viral incident, it not only garners widespread attention but also sparks heated debates across social platforms. Recently, a video showing a confrontation or an unusual situation involving a woman wearing a hijab in the middle of the road has taken the internet by storm, leaving many to wonder about the implications of such incidents on our society.
Video yang saat ini sudah ditonton lebih dari 15 juta kali di berbagai platform tersebut pertama kali diunggah oleh akun anonim @DailySceneID. Dalam rekaman berdurasi 1 menit 15 detik, tampak seorang wanita berhijab pastel (warna dusty pink) dengan gaya kasual namun modis—menggunakan blazer panjang, sneakers putih, dan tote bag—sedang berjalan di trotoar kawasan Jakarta Selatan saat jam pulang kantor.
Yang membuat video ini berbeda dari konten jalan biasa adalah ekspresi dan gestur wanita tersebut. Ia tidak sedang terburu-buru, melainkan berjalan dengan ritme yang tenang, sesekali tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya. Di detik ke-40, ia berhenti sejenak untuk membeli es kelapa muda dari seorang pedagang kaki lima sambil tetap mempertahankan aura ketenangan di tengah hiruk-pikuk lalu lintas. Viral Seorang Wanita Hijabers Ngewe Tengah Jalan - INDO18
Narasi dalam video itu berbunyi:
“Mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk Jakarta. Jiwa yang selaras dengan langkah kaki. Ada yang pernah ngerasain vibes ini?”
Hingga artikel ini diturunkan, video tersebut telah memicu lebih dari 500.000 komentar, sebagian besar berisi pujian terhadap vibe “toksis positif” yang dipancarkan wanita tersebut. “Mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk Jakarta
Apa yang bisa kita petik dari kehebohan #HijabersJalan?
Di era di mana burnout dan toxic productivity menjadi penyakit generasi muda, sosok wanita hijab yang berjalan dengan tenang di tengah jalanan macet menjadi representasi visual dari “soft life”—sebuah konsep lifestyle yang mengedepankan ketenangan batin, self-care, dan afirmasi diri. Ia tidak sedang melakukan hal spektakuler, namun justru itulah kekuatannya.
Istilah populer di kalangan Gen Z untuk seseorang yang berjalan seolah-olah dia adalah bintang utama dalam filmnya sendiri. Wanita dalam video tersebut, tanpa sengaja, memancarkan aura kebebasan dan kenyamanan dengan tubuhnya meski tertutup rapi. Hal ini memantik diskusi: Apakah hijab membatasi ekspresi gaya hidup? Atau justru membuatnya lebih berkelas? Hingga artikel ini diturunkan, video tersebut telah memicu
INDO18 Lifestyle melihat bahwa video ini mewakili fenomena hijabers metropolitan yang sering diabaikan media arus utama. Wanita tersebut bukan artis, bukan selebgram—dia adalah corporate hijabers yang pulang kerja. Keterwakilan ini membuat banyak muslimah kota merasa "lihat diri sendiri di video itu" sehingga mereka rela habiskan kuota data untuk ikut mengomentari.
Kami menghubungi Dr. Hana Fadhila, M.Si, pakar media digital dari Universitas Indonesia, untuk memberikan pandangan objektif.
"Fenomena 'Viral Seorang Wanita Hijabers Tengah Jalan' menunjukkan bahwa ruang publik telah berubah menjadi panggung teater tanpa batas. Siapapun bisa menjadi subjek penghakiman massal hanya dalam semenit. Dari sisi lifestyle, ini menjadi sinyal: generasi baru hijabers tidak lagi menerima paket kaku yang menyatakan bahwa 'kesederhanaan = tidak boleh terlihat menikmati hidup.' Namun, kita juga harus mengkritisi etika perekam yang tidak meminta izin. Jika mau viral karena konten gaya hidup, lakukan dengan kamera sendiri, bukan merekam orang asing dan memberi narasi mencemooh."
Dr. Hana juga menambahkan bahwa portal seperti INDO18 Lifestyle and Entertainment memiliki tanggung jawab besar untuk tidak sekadar mengamplifikasi drama, tetapi memberikan edukasi tentang digital consent.